Xian-xi dan Puisi Po-Chui

Oleh Cecep Hari

 

 

DUA orang teman dari Asosiasi Pengarang Cina menyambut saya di pintu kedatangan Bandara Xian-xi, di sebuah malam sangat dingin di akhir tahun 2013 itu; seorang pemuda bermarga Li, penulis dan fotografer, berumur dua puluhan akhir; dan seorang bermarga Fan, dosen dan penulis prolifik, yang berhati lembut seperti puisi lirik. Keduanya menunggu saya lebih dari tiga jam, karena saya salah menginformasikan jadwal kedatangan, dalam kepungan suhu udara  mendekati 0 derajat Celcius.

 

Waktu hampir lepas tengah malam. Bersama sopir, yang memakai mantel panjang warna hitam, berpenampilan tegap dan bersikap formal seperti seorang ajudan presiden, Li dan Fan membawa saya berkeliling kota mencari warung yang masih buka. Fan rupanya khawatir benar saya akan kelaparan di hotel sehingga membeli sekaligus beberapa bungkus mi vegetarian, semacam mi gelas dengan ukuran yang jauh lebih besar, plus seabrek makanan kecil.

 

Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu karena dua alasan. Pertama, sponsor untuk undangan kegiatan yang saya hadiri itu adalah perusahaan minyak terbesar di Cina yang didirikan di awal masa pemerintahan Mao Zedong dan pada tahun 2013 terpilih sebagai salah satu 500 perusahaan terkemuka di dunia versi Majalah Fortune

 

Kedua, saya ditempatkan di Hotel mewah di Xian-xi, di salah satu kamar berukuran luas dengan beranda sendiri yang dilengkapi meja kerja besar dan satu set sofa untuk menerima tamu. Hotel itu hingga kini menjadi hotel resmi bagi para pejabat tinggi pemerintahan Cina dan tamu-tamu asing yang berkunjung ke Xian-xi. Konon, presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, juga menginap di hotel yang sama, beberapa tahun sebelumnya. Dengan reputasi hotel semacam itu, tidak heran apabila saya menemukan banyak makanan ringan dan coklat gratis di atas mini bar. Lagi pula, tengah malam bukan saatnya untuk merasa lapar. Saya kira Li dan Fan juga tahu hal ini, dan kenyataan bahwa mereka berdua masih saja merasa cemas saya akan kelaparan, membuat rasa hormat saya kepada kedua teman baru tetapi rasanya seperti teman lama ini bertambah sedemikian rupa.

 

Karena usia kami hampir sama, Fan memperlakukan saya seperti seorang teman sebaya. Sementara itu, Li yang jauh lebih muda memperlakukan saya seakan-akan saya adalah seniornya di Asosiasi Pengarang Cina Xian-xi.

 

Sehari sebelum saya pulang ke Bandung, saya minta Li mengantar saya ke sebuah kedai kopi di Xian-xi, bersama seorang teman lain, seorang wartawan surat kabar setempat, Jo.

 

Sore itu, kami meninggalkan Gedung Opera Klasik Cina dan naik taksi ke sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota, lalu mampir ke sebuah kedai kopi. Di kedai itu, dengan mudah saya menemukan kopi Sulawesi, kopi Jawa, dan kopi Sumatera. Saya tak tahan untuk memberi tepukan hangat berkali-kali di bahu Li karena telah mengantar saya ke tempat yang tepat di hari terakhir saya berada di Xian-xi.

 

Kami mengobrol, bersenda gurau, dan hawa dingin pun terhalau dengan sendirinya.

 

Malamnya, Li, Jo, dan seorang anak muda lain yang lebih suka dipanggil Orlando, mengantar saya ke bandara. Li memakai topi kadet yang saya hadiahkan kepadanya; sementara Jo memakai topi wol musim dingin yang saya beli beberapa tahun lalu di Nowra, Australia, yang juga saya hadiahkan kepadanya. Saya lupa apa yang saya hadiahkan untuk Orlando, penulis puisi dan novel yang kaya bacaannya itu. Mungkin sebuah buku.

 

Lama kemudian, dengan riang Jo memberi kabar bahwa selama musim dingin itu ia tak pernah melepas topi wolnya jika sedang melakukan tugas liputan. Li mengirim saya puluhan foto dengan komposisi yang bagus. Sementara itu, Orlando mengirim email bahwa ia tengah menyelesaikan novelnya terbaru dan bercerita bahwa ia sedang merencanakan melakukan perjalanan ke daerah pedalaman. Dari cerita dan pilihan kata-katanya, saya tahu Orlando menulis email itu di sebuah pagi di awal musim semi.

 

Membaca email Orlando, entah kenapa saya tiba-tiba teringat sebuah sajak Po Chu-i tentang Gunung Chung-nan di kejauhan yang dilihatnya dari Jalan Tien-men di Ch’ang-an.

 

Pada pertengahan kedua tahun 2017, saya bertemu kembali dengan Fan di Jakarta. Fan diundang sebagai salah seorang pembicara di sebuah seminar internasional Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) yang diselenggarakan Badan Bahasa.

 

Siang itu, saya pergi ke Bandara Soekarno-Hatta untuk menyambutnya.

 

Di pintu kedatangan, wajah Fan terlihat sumringah. Kami kemudian mencari kedai kopi terdekat. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam berbincang-bincang di kedai itu.

 

Di dalam taksi yang membawa kami ke sebuah hotel di pusat Jakarta, saya baru tahu bahwa ini adalah perjalanan pertama kali Fan ke Jakarta.

 

Empat tahun lalu, saya menulis sebuah sajak untuk Fan, yang bernama lengkap Fan Jinghua itu. Judulnya “Jalan Menuju Xi’an”:

 

JALAN MENUJU XI’AN

 

-jinghua


Pergelangan tanganku kembali berubah menjadi karang
Dari Zhang Ba Gou ke Menara Lonceng

Seperti sekumpulan jeda dari rima yang berbahaya

 

Kupecahkan berbutir-butir kenari dengan genggaman jari
Seorang lelaki tua berbaring di atas tembok kota

Yang lainnya berjalan memakai tongkat besi

 

Bahasa yang tak kumengerti
Menunjuk ke arah bumi
Kawanku dari Shanghai enggan melirik arloji

 

Ketika menulis sajak itu empat tahun lalu, di Xian xi, udara dan suasana seperti bersekutu untuk menculik saya masuk ke dalam momen puitik yang khas yang biasanya muncul pada saat seseorang sedang melakukan perjalanan.

 

Kembali saya teringat Po Chu-i, dan saya sadar bahwa saya harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena melalui puisi saya telah diberi kesempatan untuk melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang. (csh)