Selingkar Langit Tertinggal di Bak Mandi

Oleh Cecep Hari

 

SEBAGAI seseorang yang sejak kecil menggemari film silat, saya sangat takjub ketika lebih kurang sepuluh tahun lalu, dengan mata kepala sendiri, di sebuah kuil kaki gunung di sebuah desa di Korea Selatan, saya melihat para pendeta Budha mendemonstrasikan keahlian mereka dalam ilmu bela diri.


Yang paling menakjubkan adalah ketika salah seorang biksu menunjukkan kemampuannya bersila di udara! Ini bukan sulap melainkan hasil dari latihan disiplin mental bertahun-tahun dalam ilmu meringankan tubuh.


Tapi yang akan saya ceritakan dalam catatan ringan kali ini bukanlah tentang bersila di udara melainkan tentang sebuah cincin.


Kuil itu, selain mengandalkan sumber keuangannya dari derma jemaat, juga dari hasil penjualan cendera mata kepada para turis dan tamu pada umumnya. Di antara sekian banyak cendera mata itu, saya memilih membeli sebuah cincin perak yang disebut “wishing ring”.


Cincin itu memiliki dua lapisan. Di atas lapisan pertama, terdapat lapisan kedua yang bisa diputar 360 derajat. Di atas lapisan kedua itu terlihat ukiran beberapa huruf Cina yang menurut seorang kawan bermakna “kesehatan”, “kemakmuran”, “kedamaian.”


Sejak 2006, wishing ring itu hanya saya pakai apabila sedang bepergian ke luar negeri. Tidak ada alasan khusus kecuali bahwa -- apabila saya sedang tidak membaca buku di perjalanan -- sambil menerawang jauh, mendengar musik, melamun atau berzikir, saya biasa memutar-mutar lapisan kedua cincin yang dipasang di jari manis sebelah kiri itu dengan jemari tangan kanan. Proses memutar itu mendatangkan perasaan tenang.


Kadang-kadang saya melepas cincin itu, menutup mata kanan saya, kemudian mendekatkan cincin itu ke mata kiri saya yang dibiarkan terbuka, dan melihat langit.


Langit yang mahaluas itu pun kemudian mengecil di cincin saya, berbentuk bulat penuh, dan menjadi “selingkar langit”. Percaya atau tidak, langit yang dilihat dari liang sebesar lubang cincin itu, tetap saja tampak mahaluas.


Manusia hidup di pusat lingkaran, atau dalam bahasa Iqbal, “manusia adalah pusat dari konstitusi alam raya”. Akan tetapi, seperti Takuan, saya percaya lingkaran bisa mengembang seluas semesta tetapi juga bisa mengerut sekecil titik. Manusia dapat membuat lingkarannya mengecil ataupun meluas, bergantung pada keluasan ataupun ketidakluasan persepsinya atas lingkaran itu. Luas atau tidak persepsinya tidak akan mengubah kenyataan bahwa sebagai manusia, ia berada di pusat lingkaran.


Sebagai yang berada di pusat lingkaran, manusia sendiri yang menentukan apakah lingkarannya akan seluas semesta atau sekecil titik. Tanpa kesadaran akan kesemestaan, ia akan lupa terhadap alasan kenapa ia ada di dunia dan kehilangan orientasi bagaimana ia sejatinya meng-Ada di dunia. Tanpa titik, semestanya akan terus-menerus merupakan semesta pencarian tunggal yang menjemukan. Titik adalah suatu momen ketika kita sadar bahwa kita harus berhenti dari suatu semesta kesementaraan sebelum memulai semesta kesementaraan yang lain. Titik juga adalah maut. Dan bukankah maut yang pada akhirnya akan membawa kita kembali, atau lebih tepat mengatakannya, akan membawa ruh kita kembali ke semesta nirbatas?


Pada suatu pagi di Zhang Ba Gou, Xian-xi, pada tahun 2013, saya melepas wishing ring itu dan menyimpannya di pinggir bak mandi. Saya berendam air hangat setengah jam lamanya, memejamkan mata, dan mengingat beberapa hari yang sibuk di Xian-xi waktu itu serta membayangkan perjalanan berikutnya ke daerah pedalaman provinsi Xian.


Saya teringat hari-hari sebelumnya ketika saya menyisir Jalan Muslim di Xian-xi. Kota ini memang banyak sekali umat Muslimnya dan merupakan salah satu kota tertua di Cina dengan komunitas Muslim yang garis keturunannya dapat dilacak hingga ke zaman keemasan Jalan Sutra. Saya juga teringat siang sebelumnya ketika tidak sengaja bertemu dengan beberapa pengurus dan anggota Asosiasi Muslim Cina di Xian-xi, bertukar salam, saling memanggil “brother”, dan bercakap-cakap ringan tentang kehidupan kaum Muslim di Cina dan di Indonesia.


Saya lupa sudah berapa lama saya berada di dalam minibus yang akan membawa saya ke daerah pedalaman Xian itu ketika saya menyadari bahwa sang wisihing ring alias selingkar langit itu tidak lagi berada di jari manis saya. Pada detik itu saya menyadari secara simbolis semesta kesementaraan saya telah sampai pada suatu titik, dan bahwa dari titik itu saya sedang menempuh semesta kesementaraan yang lain.


Hingga hari ini, tiga tahun kemudian, saya menduga kuat selingkar langit itu tertinggal di bak mandi. (csh)