Cecep Hari

KENANG-KENANGAN

 

Bagaimana harus kuucapkan pengakuan ini: 
Aku jatuh cinta berulang kali pada matamu, 
danau dalam hutan di negeri ajaib
yang jauh menyelusup dalam ingatan itu.

Berabad-abad yang lalu, 
kuucapkan selamat tinggal pada apa pun
yang berbau dongeng, atau masa silam. 

Tetapi cinta, bukan sebotol coca-cola. 
Atau film Disney; di sana tokoh apa pun tak pernah mati. 

Juga bukan Rumi yang menari. 

Sebab pada matamu bertemu semua musim,
sejarah, dan sesuatu yang mengingatkan aku
pada suatu hari ketika waktu berhenti, 
dan kusapa engkau mesra sekali. 

Kini, bahkan wajahmu samar kuingat kembali. 

Haruskah kuucapkan pengakuan ini: 
Aku jatuh cinta berulang kali pada matamu, 
danau dalam hutan di negeri ajaib
yang jauh menyelusup dalam ingatan itu. 

Tetapi cinta, bukan sekotak popok kertas. 
Atau sayap sembilan puluh sembilan burung Attar yang terbakar. 

Cinta, barangkali, kegagapanku 
mengecup sepasang alismu.

1994-2006

 

Cecep Hari

SAYAP KENANGAN YANG TERBAKAR

 

Empat puluh mil dari kenangan. 
Bulan jatuh ke dalam lubang kelinci. 


Di negeri ajaib ia mengaku bernama Alice
dan menulis sepucuk surat cinta pada sebuah tempat
tanpa nama, barangkali, kenangan. 


Angin menerbangkannya ke negeri-negeri jauh di Timur; 
tempat anggur dan matahari,
syair dan malam hari, 
berdegup dalam jantung Li Po dan Sa`di. 


Berabad-abad sesuatu yang mengaku sejarah
menyimpan surat itu.
Sayap burung-burung Attar menyampaikan ia padaku. 


Kupesan ratusan cermin. 
Tetapi cermin tak sejernih sungai yang mengalir
dalam hutan pagi hari.


Kelopak-kelopak air
memantulkan sepasang alismu yang menari.
Alice, akhirnya kutemukan engkau di situ. 


Empat puluh mil dari kenangan. 
Bulan keluar dari dalam lubang kelinci. 


Di negeri sepatu serdadu dan selongsong peluru 
kau tak mengaku bernama apa pun,
kepada siapa pun. 


Tak mungkin kau tulis sepucuk surat cinta lagi.
Sebab kedua tanganmu tertinggal di negeri tanpa peta. 
Dan kedua matamu jadi ribuan lentera di negeri tanpa cahaya.


Kubuang sejarah dalam diriku untuk mendekap dan mengecup
keningmu berulang-ulang. 


Tetapi kenangan melebar ribuan mil,
dan sayap burung-burung Attar terbakar dalam batinku.


1994-2006

 

Cecep Hari

MEJA KAYU

 

Inilah rahasia senja, usia yang terbuang,
maut yang mengundang dan menghindar. 

Laut jauh, malam pualam. 

Kudengar berbagai suara dari dalam.
Pertempuran, tarian Mephisto, erang dan keluh, 
jamu yang diseduh, sedang dia memungut bayang-bayang: 

Luka dan prelude 
dari duka yang luput. 

Ada perempuan matang bergigi kawat, berdiri di sebuah 
hari, ujung tahun yang basah, di bawah pohon cemara
berlampu lebat. 

Pengakuanku terbesar padamu: 
aku berhenti menemui seorang gadis, 
dan minum kopi lagi. 

Semakin jarang aku memberimu ciuman, 
umurku berkurang dan kesepian. 

Telah kuterima kegagalan dan hujatan
sebagai cinta. 

Aku keluar, sepatuku selalu bersemir coklat,
kaus kaki baru dan lembut, ah, bukankah telah lama kering
rumput di halaman 

dan Chopin di masa silam menulis lagu pedih tentang hujan. 

Gerimis dan rincing uang logam, pemantik api 
dan pipi yang penuh, 
sudut kotamu terlalu riuh. 

Aku bernyanyi,
jika sedih aku bernyanyi: 
Tepislah cintaku, dan esok pagi
aku akan bangun di kamar hotelku. Sendiri. 

Yang kusayangi selalu pergi. 

Inilah rahasia senja, tanpa patahan kenangan
dan kehendak memuja mitologi. 

Alangkah riang ketika langit terang, 
kereta langsir, peluit tukang parkir 
bagai jadwal yang mangkir. 

Aku murung dan kecewa, 
di stasiun Tugu melompat-lompat dan tertawa. 

Beriman, Faust, bukan bersedia 
keras kepala, untuk senyum seorang perawan, 
pemimpin yang ribut, sahabat yang memelihara serigala 
dalam dadanya, untuk bukan apa pun. 

Tidak seperti para terusir di tanah-tanah pengungsian,
aku cuma sedikit kehilangan: 

Daun jatuh, percakapan yang berayun-ayun; 
dan seorang perempuan lemah 
melepas kerudungnya, mendedah kecupan, 
menata surat-surat, hadiah-hadiah remah, 

dan mengubur bekas pelukanku
di bawah meja kayu.

1999-2006 

 

Cecep Hari

EFROSINA

 

Ketika bangun pagi sekali, pada suatu hari, 
aku takjub ilalang tumbuh sepanjang betisku. 

Tubuhku kecut dan pasi, 
hujan menyiram rambutku semalaman; 

seseorang bermuka pucat bermahkota cahaya 
ke dalam cawan menuangkan cairan merah bagai anggur, 
seperti darah: 

"Untuk kesehatan kita." Kami pun bersulang, 
aku bersulang, dengan murung. 

Tapi demi Tuhan, demi dia, 
wajahnya jelita dan jenaka. 

Aku teringat ibu, lalu kutanyakan padanya 
telah ia lihatkah pohon di sorga 
muasal semua penderitaan manusia. 

Namun ibu tersayang terlalu jauh 
dan seruanku begitu rendah. 

Angin keras dan riuh, tersesat aku di entah. 

Andaikan firdaus, seandainya inferno, 
dapat diukur dengan kilo jaraknya 
dan jarum jam berputar sebaliknya. 

Barangkali aku menangis, ya, sendirian, bermalam-malam. 
Keningku rekat ke marmar, jiwaku memar. 

Kelopak bunga baobab berguguran dari sembab mataku. 

Di kejauhan seluruh masjid bertakbir, 
para malaikat pulang ke tabir. Meninggalkan sayap mereka 
di jalan raya. 

Aku terikat di tempatku. 
Para filsuf menyebutnya dunia, aku menyebutnya penjara 
atau puisi atau jalusi musim semi. 

Seseorang dengan sinaran berputar di lingkar kepalanya 
menjadi kekasihku yang setia, dan pada suatu senja 
minggat begitu saja. 

Aku patah. Jatuh sakit dan ginjalku lemah. 

Aku menunggu, tidak, aku tidak menunggu, aku menunggu, 
tidak, mustahil aku menunggu, aku menunggu, 
tidak, ia muskil kembali, ia mungkin kembali. 

Wajah yang memukau menyelundup dalam mimpiku. 
Bagai hujan rusuh menghunjam lebuh kemarau. 

Di hari yang lain pusar di lidahku diliput 
lumut, dan mulutku pun bisu. 

Biji gandum liar berjatuhan dari lubang hidungku, 
disemaikan angin ke seluruh penjuru. 

Aku kini buta dan menanti. 
Bersandar di kursi malas seharian, 
setelah itu berminggu-minggu,
kemudian berbulan-bulan. 

"Dungu!" suara asing berbisik di telingaku, 
"segala sesuatu berubah. Waktu tidak berlari ke punggungmu. 
Duduk manislah di situ, kenangkan perbuatan 
santun masa mudamu. 

Kutuklah pawai, juga partai, 
atau apa pun sesukamu." 

Sayang, sayang, jangan menuduhku pencaci 
dan mendakwaku Mephisto atau Samiri. Bukan, sayang, 
bukan. 

Namaku tak jadi beban. 
Aku bukan Aaron, bukan setan. 

Aku pencinta wajah yang pernah datang dan hilang 
meninggalkan untaian manik cahaya, 
seperti lira Orfeus bagi madah Eridike yang nestapa.

Aku makanan dalam ususmu, 
keluhan dukalaramu, 
aku retina dalam matamu. 

Hanya kudengar desir angin. 

Maka kepadanya aku berkata:  "Kunjungilah negeri terjauh. 
Temukan dia untukku." Akan kutanggungkan 

kesedihanku merangkum ranum senyum itu.

1999-2006

Cecep Hari

BINTANG SORAYA

 

Sudah lama kubiarkan kau sendiri. 

Keramas dini hari, menyapu pekarangan, 
melipat selimut, dan membuka tirai semua jendela. 
Di halaman belakang, kabut menutup mataku ke arah tenggara 

bintang soraya. Dalam hati aku bertanya: 
mengapa pintu kamar mandi selalu mencegahku berseru padamu. 
Ini cuma pagi yang biasa: keluhan kecil tentang keran air 
bocor berminggu-minggu, tabung gas yang kosong,

sedikit sampah di sudut dapur. Lihat! aku tidak sekuat  lima
tahun lalu. Tulang punggungku selalu sakit di malam hari.

Sudah lama kubiarkan kau sendiri. 
Juga ketika telapak tanganmu mencari rusukku. 
Bau balsam itu pula yang membawa mimpiku
ke pusara ibu. 

Kau tak pernah mengelak kuajak bicara tentang maut. 
Aku mengigau liar. Kau sabar mendengar. 
Kemudian datang sebuah pagi yang lain ketika kau menyimpulkan
tadi malam mungkin aku bertemu hantu atau ifrit atau harut.

Mungkin juga bertemu setan atau si peniup seruling
dari riuh jalan kota Hamelin. 

Kau mencium pipiku, dan berkata:
 “Silakan temui siapa pun.” 
Kukecup anting kupingmu, dan berkata: 
“Kecuali wanita lain.”

Sudah lama kubiarkan kau sendiri. 
Sudah lama kubiarkan aku sendiri. 

2002

Cecep Hari

SENGGIGI

 

Jam tujuh malam
Hujan usai sudah
Pasir basah

Angin menjauh
Kau selalu menjauh
Bahkan ketika rinai airmatamu 
Jatuh di bahu kiriku

Jam tujuh malam
Kau tak pernah percaya 
Aku akan mati
Pada jam tujuh malam

Garis pantai menjangkau langit
Perahu berlayar sampai bintang
Aku dan tebing ini seperti kekasih lama
Yang merayakan pertemuan

Pasir basah
Hujan usai sudah
Pada jam tujuh malam

2001-2002

Cecep Hari

DI TEPI SUNGAI HAN

 

Setiap pagi hatiku melukis warna bibirmu
dan memuja tatapan matamu

Kau tak pernah bertanya aku di mana
sebab kau tahu aku selalu di sini

Di bawah langit musim semi
ketika surga menemukan buminya kembali 

Di tepi Han-gang perahu-perahu diam menunggu
usiaku tak ada artinya dibandingkan alir sungai itu

Setiap pagi aku memuja tatapan matamu
dan melukis warna senyummu

Seoul, 2006

Cecep Hari

LAGU MUSIM SEMI

 

Akan kuberi nama semua kuntum bunga
yang mekar di awal musim semi 
dengan namamu


Lengang jalan
dan langit hampa
dipisahkan dua puluh tiga anak tangga


Hening layung kaenari
dan ungu agi-jindalle
membawaku ke pucat wajahmu


Desah angin menimang udara
suara hujan membujuk daun-daun
kota Seoul selalu terlambat bangun


Berangkat dari Jeagi il-dong
dengan dompet dan paspor 
di saku kiri jaketku


Aku tak tahu
apakah kereta bawah tanah siang ini
akan sampai ke matahari hatimu


Akan kuberi nama semua kuntum bunga
yang mekar di awal musim semi 
dengan namamu


Seoul, 2006

Cecep Hari

LILY AIR

 

Penyair akan mencari lily air
Pada wajah kekasihnya

Ia memujamu sekilau cahaya
Tak pernah risau akan tiba senja

Melembutkan putik sepanjang malam
Dalam selimut putih kesunyian

Ia pasrahkan pualam tubuhnya 
Jadi milikmu seluruhnya

Selangor, 2008

Cecep Hari

REQUIEM FOR AN EMBRACE

- dari kanvas gabrielle bates

 

Setiap orang hanya memiliki satu hati
Dan setiap kehidupan memberi waktu satu hari

Tidak akan pernah kubiarkan kau pergi

Dalam keagungan kenangan
Para pencinta dikutuk untuk melupakan
Para penyair disumpah untuk mengekalkan

Datanglah kepadaku wahai grasia semua keriangan
Datanglah kepadaku wahai mawar dari selatan

Aku akan memelukmu sebelum subuh tiba
Aku akan memelukmu ketika maut tiba

Selangor, 2008

Cecep Hari

TIDAK ADA LAGI PRAHA
YANG HARUS DIPERTAHANKAN 

 

Empat puluh tahun kemudian
hanya ada karangan bunga
separuh kuning separuh jingga
diletakkan di atas tanah

Musim semi Jan Zajíc dan Jan Palach

Tidak ada serdadu dan peluru yang datang menyerbu
tidak ada palu dan arit yang mengancam
tidak ada satu pun kamerad yang meludah
di atas tanah Golem dan para peziarah 

Tidak ada lagi Praha yang harus dipertahankan

Patung-patung kuda melompat ke angkasa
trem-trem merah memburu gadis-gadis berlidah tembaga
domba-domba gundul berbaju kuning menabuh gendang
berlari dan bernyanyi riang di jalan-jalan

Memanggil-manggil sang gembala Hare Kresna

Di sudut sebuah pintu masuk kereta bawah tanah
tiang salib melintang di antara dua puting mawar
dan lonceng gereja berdentang di dalam lubang pusar
seorang perempuan murung berbaju hitam

Di bagian mana kota ini kekasihku sedang menunggu?

Harimau besi mengaum dalam hutan jiwaku
lentur tulang punggungnya melengkung
sepasang matanya menyapu rimba perburuan
siap menerkam tubuh harum seekor kijang 


József Attila, jangan dulu pulang ke Buda, 
tinggallah denganku beberapa hari di sini! 

Di depan monumen dua Jan 
serumpun daun tumbuh di bahu pasangan renta
kursi-kursi taman jauh lebih kekal dari para penguasa
musim semi melampaui jarum jam abadi semua mimpi

Aku menangis, dan jatuh cinta pada kota ini.

Praha, 2009

Cecep Hari

MENINGGALKAN PRAHA

 

Hanya lambaian tangan Christina
yang telah mengikat takdirku dengan Praha

Burung-burung merpati dalam kabut pagi
taman lengang Dejvicka, pintu-pintu terkunci 
jerit trem, langit hampa, pagar tulip kuning
menghambur ke angkasa

Selalu, kubangun kesedihan-kesedihan baru
dengan pertemuan singkat dan kutukan
dengan harum rambut dan pelukan
dengan cinta yang keras kepala 

Hanya lambaian tangan Christina
yang akan mengikat takdirku dengan peri Rusalka

Dalam perjalanan pulang ke Keleti
kususun kembali serpihan-serpihan tubuhku
yang hancur di kaca jendela, kursi yang sendiri, 
dan pohon-pohon yang berlari ke silam sunyi 

Senja, di ruang tunggu Deli 
burung-burung merpati bersarang di sepatuku 
berebut remahan roti dari kedua telapak tanganku 
yang telah berubah menjadi karang

Hanya lambaian tangan Christina
hanya lambaian tangan
hanya lambaian

Praha-Budapest, 2009

gallery/panah001