Puisi dan Orang Gila

Oleh Cecep Hari

 

 

Menerjemahkan karya sastra adalah pekerjaan yang rumpil. Menerjemahkan puisi, jauh lebih rumpil lagi. Karena besarnya risiko kerumpilan dalam menerjemahkan puisi, dan mengingat keras kepalanya para penerjemah puisi untuk melakukannya, maka para penerjemah puisi pastilah orang-orang majenun.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata majenun yang berasal dari bahasa Arab itu berarti: (1) kemasukan jin (orang halus); (2) gila. 


Rasanya tidak mungkin para penerjemah puisi itu majenun dalam pengertian kemasukan jin atau orang halus. Kecuali, mungkin, jika puisi yang mereka terjemahkan adalah puisi yang ditulis jin atau orang halus. Jadi satu-satunya kemungkinan yang tersisa sudah pastilah mereka gila.


Gila? Ya, gila. Gila yang mana? Gila yang itu? Gila yang itu yang mana maksudnya? 


Daripada gila bertanya-tanya dan berujung menjadi ”gila”, mari kita lihat dulu apa arti kata [gila]. 

 

Juga menurut KBBI, [gila] berarti: (1) a - sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal): ia menjadi -- karena menderita tekanan batin yang sangat berat; (2) a - tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal): benar-benar --, masakan dia dapat melompat setinggi itu; (3)  a cak - terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat); (4) v - terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang): ia -- membaca buku roman; tidak sedang -- asmara; (5)  a - tidak masuk akal: menurut pendapat mereka, ide itu adalah ide yang --.


Melihat beberapa pengertian gila menurut KBBI, sangat mungkin seluruh pengertian kata gila dapat dinisbahkan kepada para penerjemah puisi itu.


Pengertian gila nomor 1 bisa muncul pada kalimat ini: “Si X menjadi gila karena gagal menerjemahkan puisi-puisi si Y, penyair besar asal negeri N. Terjemahannya yang gabas itu menuai banyak kritik dan karena dari banyak kritik itu ada yang pedas sekali tanpa ampun dan secara psikologis tidak tertahankan si X, maka si X pun menderita tekanan batin yang sangat berat dan akhirnya ia menjadi gila.”


Pengertian gila nomor 2 dapat muncul pada kalimat ini: “Benar-benar gila si X itu, puisi-puisi si Y yang seperti itu diterjemahkan seperti ini.”


Pengertian gila nomor 3 larat muncul pada kalimat ini: “Gila benar terjemahan si X. Top markotop dah.” Atau mungkin dalam kalimat ini: “Gila! Terjemahan si X atas puisi-puisi si Y dari negeri N bisa bikin kepala si Y menyentuh langit-langit karena dalam bahasa aslinya bahkan si Y pun tahu puisi-puisinya nggak bagus-bagus amat.”

 

Pengertian gila nomor 4 cakap muncul pada kalimat ini: “Jangan ngeres, ah. Si X lama tidak meng-update status FB karena ia sedang gila menerjermahkan puisi-puisi si Y dari negeri N, bukannya sedang gila mengejar si M, gadis imut semlohai anak tunggal juragan beras!”


Pengertian gila nomor 5 kuasa muncul pada kalimat ini: “Menurut si A, kritikus sastra yang juga teman dekat si X, adalah gila menerjemahkan puisi-puisi si Y dari negeri N, padahal di negeri N banyak sekali penyair yang puisi-puisinya lebih patut diterjemahkan daripada si Y. Ada-ada saja nih si X. Tapi ya tidak bisa disebut gila juga sih karena kita mafhum bin paham dari banyak sekali penyair di negeri N, sajak-sajak si Y-lah yang lebih mudah diterjemahkan karena bahasanya tidak serumit kenur pancing yang sudah kusut basah pula.”


Mimpi setiap penerjemah puisi adalah menjadi gila dalam pengertian gila nomor 4 yang menghasilkan pengertian gila nomor 3 (ungkapan kagum). Mimpi para penulis puisi adalah puisi-puisinya diterjemahkan para penerjemah puisi gila dalam pengertian gila nomor 4 yang karena gila pengertian nomor 4-nya begitu gila dalam pengertian gila nomor 3 (hebat) dapat menghasilkan karya terjemahan puisi dalam pengertian gila nomor 3 juga (hebat sekaligus ungkapan kagum).

Membaca catatan ringan ini mungkin Anda akan berkata dan bertanya: “Gila ya gila, majenun ya majenun, tapi memangnya serumpil apa penerjemahan puisi itu sehingga para penerjemah puisi sudah dapat dipastikan orang-orang majenun?”


Ini ada hubungannya dengan sebuah pepatah. Dan sebagaimana sifat sebuah pepatah, gilanya selalu berumur panjang, rewel, dan mengganggu pikiran. Pepatah itu adalah “Bahasa menunjukkan Bangsa”.


Merujuk pada buku klasik setebal 807 halaman hasil penelitian gila Ford Madox Ford (The March of Literature from Confucius to Modern Times), puisi adalah asal muasal bahasa umat manusia. Dan ketika umat manusia itu telah menyebar ke seluruh sudut bumi dan berkembang menjadi berbagai bangsa, maka puisi yang asal muasal bahasa itu, dengan sendirinya pula menjadi induk dari berbagai bangsa. 


Seperti ciri-ciri anatomi genetis anak ayam hutan hijau atau cangehgar (Gallus varius) atau anak ikan nila merah (Oreochromis niloticus) dapat dilihat dari anatomi genetis induk ayam hutan hijau atau induk ikan nila merah yang melahirkannya, sebagaimana juga karakter anatomi genetis anak manusia (Homo sapiens) dapat dilihat dari anatomi genetis induk manusianya, demikian pula ciri-ciri dan/atau karakter anatomi genetis sebuah bangsa dapat dilihat dari anatomi genetis bahasanya. Dan ciri-ciri dan/atau karakter anatomi genetis bahasa suatu bangsa dapat dilihat dari anatomi genetis puisi-puisinya. Di sinilah kerja penerjemahan puisi kemudian menjadi rumpil: menerjemahkan puisi pada hakikatnya bukanlah kerja penerjemahan puisi sebagai puisi itu sendiri melainkan kerja penerjemahan anatomi genetis bahasa suatu bangsa yang dimaksudkan untuk menghasilkan pengetahuan bersama atas ciri-ciri dan/atau karakter bangsa yang bersangkutan. 


Hanyalah orang-orang majenun, lebih khusus lagi orang-orang majenun dalam pengertian majenun nomor 2 (gila), dan lebih khusus  lagi orang-orang gila dalam pengertian gila nomor 4 yang diduga dapat menanggungkan beban berat itu, meskipun jika beban berat itu ternyata tak tertahankan dapat membuat orang-orang gila dalam pengertian gila nomor 4 itu turun posisinya ke pengertian gila nomor 1.


Saya ingin memperpanjang catatan ringan ini dan memasuki wilayah simulakrum gila dalam pengertian nomor 2 atau nomor 5 para teoretisi gila dalam pengertian nomor 4 atau nomor 3 untuk lebih dalam mengupas masalah kerumpilan dalam penerjemahan puisi tetapi saya cemas upaya memperpanjang itu tak lain tak bukan adalah tanda-tanda saya mulai terjangkiti pengertian gila nomor 1. (csh)