Kyai Fuad Rindu Kanjeng Nabi

Oleh Cecep Hari

 

 

1

Saya percaya bahwa persahabatan adalah salah satu bentuk rezeki dari Allah Swt.  Saya percaya bahwa persahabatan yang langgeng bagaikan rezeki yang tiada henti mengalir yang dilimpahkan Allah Swt.  Saya percaya bahwa suatu berkah tersendiri dapat bersahabat dengan K.H. Muhammad Fuad Riyadi.

 

Saya mengenal Kyai Fuad sejak awal tahun 2000-an. Pada saat itu ia masih mengajar di sebuah sekolah menengah, belum memiliki pesantren, dan belum dikenal luas sebagai Kyai.

 

Saat itu Kyai Fuad (yang memiliki garis keturunan kekyaian dari garis Ibu maupun Ayahandanya, dan bila garis keturunannya disusuri lebih jauh, ia masih dalam garis silsilah Sunan Bonang, salah seorang Wali Songo, yaitu sembilan wali yang mengislamkan Tanah Jawa dan menyebarkan Islam di Nusantara) sedang melangkah dalam proses mendirikan pesantren -- orang Sunda menyebut langkah awal itu sebagai lelengkah halu -- dan pada saat itu aura kekyaiannya telah memancar dari wajahnya.

 

Pada pertemuan pertama itu, jika saya tidak keliru mengingatnya terjadi di Bogor dalam sebuah acara penataran yang diadakan Kementerian Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Majalah Sastra Horison, Kyai Fuad memberi saya hadiah sebuah buku yang merupakan hasil penelitianya tentang kehidupan kaum santri di beberapa wilayah di Tanah Jawa. Judul buku itu, Kampung Santri.

 

Sejak itu beberapa tahun kami tidak pernah bertemu lagi hingga saya mendengar kabar bahwa Kyai Fuad telah mendirikan pesantren dan setelah terjadi gempa Yogyakarta  pada Mei 2006 (pada saat gempa itu terjadi saya sedang tinggal di Seoul) kemudian memindahkan pesantrennya, yang diberi nama Pesantren Roudlatul Fatihah ke daerah Plered, Bantul.

 

Dua kunjungan pertama saya ke Pesantren Roudlatul Fatihah, disingkat ROFA, terjadi atas kebaikan Joni Ariadinata, sahabat saya yang pada waktu itu duduk bersama sebagai Dewan Redaksi Horison, yang mengantar saya menembus pekat malam dengan riang dan penuh kebahagiaan. Saya pernah berkata kepada Joni dan kemudian saya ulang pula pada beberapa kesempatan kepada Kyai Fuad bahwa apabila saya pergi sendiri ke pesantren ROFA, kemungkinan besar saya akan tersesat dan tak akan pernah sampai ke tujuan karena rutenya sukar saya ingat.

 

Pada waktu itu, bagi saya pesantren ROFA berada di ujung dunia. Setelah saya pikir-pikir, pada saat saya menulis esai ini pun, pendapat saya belum berubah, yaitu bahwa pesantren ROFA masih berada di ujung dunia.

 

2

Di ujung dunia itulah Kyai Fuad dengan istiqamah menempa kekyaiannya dan menjalankan fungsi kekyaiannya untuk meningkatkan kualitas keimanan umat melalui metode dakwah yang dipilihnya dengan menangkap spirit zaman pada satu sisi dan pada sisi lain mendayagunakan kualitas-kualitas kemanusiawiannya sebagai seseorang yang sejak muda sangat dekat dengan kesusastraan, musik, dan kebudayaan pada umumnya.

 

Kyai Fuad pernah bekerja sebagai wartawan dan dengan demikian tidak asing dengan segala bentuk teknik reportase yang dimungkinkan untuk menyebarkan opini atau informasi. Ia juga seorang penulis esai dengan kepekaan seorang peneliti yang terlatih dalam metode mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data.  Ia seorang pelukis. Ia juga seorang penyair. Dengan kata lain, ia bagaikan pengejawantahan Sunan Bonang atau Maulana Jalaluddin Rumi yang hidup di era digital, sebuah era yang bertumpu pada kekuatan dan keterbukaan internet.

 

Kesadaran akan kekuatan era digital inilah yang kemudian memberikan ciri khas lain, jika tidak dapat disebut sebagai kekuatan tersendiri, dalam salah satu pilihan metode dakwah Kyai Fuad, yang dapat disebut sebagai metode dakwah digital.

 

3

Dari beberapa kali perbincangan sekilas tentang zaman baru internet dan dunia digital ini, saya menangkap kesan bahwa Kyai Fuad sama sekali tidak merasa cemas dengan paradoks era digital.

 

Pada hemat saya pribadi era digital yang tumbuh besar dan bertumpu pada kekuatan dan keterbukaan internet itu bersifat paradoks yang sejauh dapat saya amati sekurang-kurangnya menyimpan lima paradoks berikut ini: (1) memuja hak-hak privasi individu akan tetapi pada saat bersamaan rentan akan segala kemungkinan tereksposnya hak-hak privasi individu; (2) memuja kebebasan berekpresi dan menyatakan pendapat akan tetapi pada saat bersamaan rentan akan segala kemungkinan tak terduga yang dapat ditimbulkan oleh kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat; (3) informasi dipercaya sebagai milik bersama dan merupakan hak independensi setiap orang untuk memperolehnya akan tetapi pada saat bersamaan para pencari informasi (masih) bergantung kepada indeksasi mesin-mesin pencari yang tidak “bebas nilai”; (4) internet bersifat terbuka, juga pada aspek yang menyangkut identitas penggunanya, akan tetapi untuk maksud-maksud dan tujuan tertentu, menyembunyikan identitas dipandang sebagai tindakan yang lebih aman dan oleh sebab itu sangat dianjurkan; (5) di era digital saluran-saluran komunikasi yang disediakan internet membuat manusia (dan kemanusiaan) saling terhubung (connected) akan tetapi pada saat bersamaan juga terpisahkan (disconnected).

 

Dalam beberapa kali kesempatan perbincangan, Kyai Fuad menyebutkan bahwa di era digital seperti ini, sikap terbaik, termasuk dalam melakukan dakwah, adalah dengan menjunjung asas keterbukaan yang didasari sikap “mengambil bagian yang maslahat dan membuang bagian yang mudharat” dari era digital itu sendiri.

 

4

Para pencari kebenaran dan orang-orang haus ilmu yang berkelana di dunia maya dan ingin menangguk aspek-aspek ilmu keagamaan yang berifat syariat, tarekat maupun hakikat melalui media internet termasuk media-media sosial yang merupakan keturunan langsungnya, tentu tidak asing dengan sejumlah channel dakwah di Youtube dan Facebook yang berasosiasi dengan Kyai Fuad, seperti “Gus Fuad Channel”, “Ngaji Bareng Gus Fuad”, dan “Taman Pembuka Jiwa”. Saluran-saluran online ini mengunggah pengajian-pengajian rutin dan acara mingguan rutin shalawatan yang telah diselenggarakan sejak pesantren Roudlatul Fatihah berdiri -- yaitu acara pengajian “Shalawat Simtudhuror” --  yang diselenggarakan Kyai Fuad di pesantrennya.

 

Setiap saluran online ini memiliki pengunjung setianya sendiri. Ada saluran yang masih dilihat ratusan kali namun ada juga yang telah ribuan kali. Secara tidak langsung, santri-santri Kyai Fuad, melalui dakwah digital yang dilakukannya, telah menyebar bukan saja di wilayah Indonesia akan tetapi di kawasan Asia, Australia hingga Eropa.  Pesantren ROFA sendiri telah beberapa kali dikunjungi tamu-tamu berkebangsaan asing yang ingin langsung bertemu dengan Kyai Fuad.

 

Kyai Fuad pernah berkata kepada saya dalam suatu kesempatan bahwa santri-santrinya lebih banyak “santri online” alih-alih santri mukim. Di kalangan santri Pesantren ROFA yang kemudian menjadi santri mukim Kyai Fuad, sebagian di antaranya lebih dulu mengenalnya secara online melalui medium saluran-saluran  dakwah digital yang disebutkan di atas.

 

5

Kyai Fuad memiliki cita-cita besar dan mulia --  sebagaimana yang diajarkan guru spiritualnya, Tuan Guru Zaini (Abah Guru Sekumpul) dan para wali Allah lainnya  -- yaitu mengajak kaum Muslim untuk senantiasa mencintai Baginda Nabi Muhammad Saw. dan untuk selalu bershalawat kepadanya.

 

Selain melalui dakwah konvensional, ajakan untuk tiada henti mencintai Baginda Nabi Muhammad Saw. dilakukan Kyai Fuad dengan menulis lirik-lirik lagu puitis yang melukiskan perenungan dan gelora cintanya yang dalam kepada Al-Insan Kamil, Penghulu Umat Manusia itu.

 

Epistemologi yang dipilih Kyai Fuad melalui lagu-lagu yang ditulisnya dan dinyanyikannya sendiri bersama ROFA Band dalam mengajak kaum Muslim (khususnya kalangan generasi muda Muslim) untuk tanpa henti mencintai dan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. adalah dengan melakukan revitalisasi semangat dakwah Wali Songo, yaitu bahwa anjuran untuk melakukan kebaikan sejatinya dilakukan dengan menangkap spirit suatu zaman namun tetap setia pada nilai-nilai kekal dan universal ajaran Islam.

 

Spirit zaman milenial, atau sebagian anak muda sekarang menyebutnya sebagai “zaman now” adalah spirit era digital yang ditandai dengan kecepatan, keterbukaan, dan digitalisasi informasi. Kyai Fuad menangkap spirit zaman itu, menyikapinya dengan kaidah ushul-fiqh untuk “mengambil yang maslahat dan membuang yang mudharat” dari era digital itu sendiri dan menjadikannya sebagai salah satu pilihan dalam metode dakwahnya dalam menyebarkan nilai-nilai kekal dan universal ajaran Islam.

 

Salah satu nilai kekal dan universal ajaran Islam adalah perintah Allah Swt. di dalam al-Quran untuk bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.

 

Allah Swt. berfirman dalam Surah al-Ahzab (56):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkan salam dan penghormatan kepadanya.”

 

Pada sisi lain, ada sebuah pernyataan eskatologis dalam Islam bahwa “Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi). Di antara semua makhluk yang diciptakan Allah Swt., karena kesempurnaan akhlaknya, Baginda Nabi Muhammad Saw. adalah yang terindah dan tiada yang lebih indah lagi setelahnya.

 

Kepada manusia terindah itulah, Kyai Fuad dalam salah satu  lagunya, “Rindu Kanjeng Nabi”, menulis dengan segenap kerinduan dan cinta: “Sepanjang hari kuingat dirimu, setiap detik kusebut namamu....”

 

Hanya hati yang memiliki lautan cinta yang sangat dalam kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. yang dapat menuliskan ungkapan kerinduan dan cinta seperti itu.

 

Mudah-mudahan kita termasuk yang beruntung mendapat berkah persahabatan Kyai Fuad -- seorang kyai yang ditakuti dunia dan para pemujanya akan tetapi, insya Allah, selalu dirindukan akhirat dan para pencintanya -- dan dapat ikut merasakan getaran cintanya yang sangat dalam kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. (csh)


 

 

Atas kiri: Tautan video Youtube ke lagu "Rindu Kanjeng Nabi" Rofa Band. Samping kanan: Kyai Fuad tentang Tuan Guru Zaini (Abah Guru Sekumpul), misi Pesantren Roudlatul Fatihah, dan tentang berdakwah melalui musik. Untuk browser yang menggunakan adblocker, tautan ke kedua video ini dapat dijalankan dengan mematikan sementara fitur adblocker tersebut.

gallery/shalawat