Penyair adalah murid dari kesempurnaan. Namun, meskipun telah menempuh jalan puisi sepanjang hidupnya, penyair tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan itu. Kesempurnaan puisi berada di seberang kesempurnaan. Kesempurnaan puisi bersifat kekal, jalan puisi bersifat abadi, akan tetapi penyair sekadar tubuh kesementaraan yang berjalan di atas bumi yang fana. Setiap penyair yang telah sampai pada rahasia hakikat kesementaraan ini, akan bersyukur untuk puisi yang sedang ditulisnya; untuk puisi yang pernah ditulisnya; untuk puisi yang pernah ditulisnya dan dibaca orang lain; untuk puisi yang pernah ditulisnya dan dikiritik ataupun dicerca orang lain; untuk puisi yang pernah ditulisnya dan mengilhami orang lain; untuk setiap puisi yang pernah ditulisnya dan hanya disimpan untuk dirinya sendiri. (Cecep Hari)